![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Di banyak kampung tua di Sumatera dan Kalimantan, ada beberapa jenis buah hutan yang dulu akrab dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah asam kumbang. Nama buah ini mungkin masih terdengar familiar bagi orang-orang yang sering masuk kebun atau hutan, tetapi bagi generasi muda, asam kumbang perlahan mulai menjadi cerita yang hanya sesekali terdengar dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Padahal, buah ini memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari buah-buah yang banyak dijual di pasar saat ini.
Asam kumbang merupakan jenis tumbuhan yang masih satu kelompok dengan mangga. Nama ilmiahnya adalah Mangifera quadrifida. Pohonnya dapat tumbuh sangat tinggi, bahkan mencapai puluhan meter di hutan-hutan tropis. Daunnya tebal dan mengilap, sementara bunganya berukuran kecil dengan aroma yang harum. Tumbuhan ini secara alami tersebar di kawasan Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan.
Yang paling menarik tentu buahnya. Saat matang, kulit buah asam kumbang berubah menjadi warna ungu yang mencolok. Daging buahnya berwarna kuning, berserat cukup banyak, dan mengeluarkan aroma harum yang khas. Rasanya manis, tetapi masih menyisakan sedikit rasa asam yang menyegarkan. Karena cita rasanya yang unik, buah ini sering menjadi buruan masyarakat ketika musim berbuah tiba.
![]() |
| Asam Kumbang |
Di beberapa daerah, buah-buah seperti asam kumbang bukan sekadar makanan. Kehadirannya sering menjadi penanda musim, teman perjalanan saat masuk kebun, atau bagian dari kenangan masa kecil. Banyak orang yang tumbuh di lingkungan pedesaan masih mengingat sensasi memungut buah yang jatuh di bawah pohonnya, lalu membelahnya bersama teman-teman tanpa perlu menunggu sampai dibawa pulang. Kenangan sederhana seperti itulah yang membuat buah hutan memiliki nilai yang lebih dari sekadar rasa.
Sayangnya, keberadaan asam kumbang kini tidak semudah dulu ditemukan. Berkurangnya kawasan hutan membuat habitat alami pohon ini ikut menyusut. Padahal, pohon asam kumbang memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati hutan tropis. Bahkan para peneliti menduga bahwa salah satu mangga khas Kalimantan, yaitu kasturi, kemungkinan merupakan hasil persilangan alami antara asam kumbang dengan jenis mangga lainnya.
Di tengah semakin banyaknya buah impor dan tanaman budidaya modern, asam kumbang mengingatkan bahwa hutan Nusantara sebenarnya menyimpan kekayaan buah lokal yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang pernah mencicipinya, tetapi cerita tentang buah ini menjadi pengingat bahwa alam Indonesia pernah menghadirkan banyak rasa yang tumbuh liar tanpa pupuk pabrik dan tanpa kemasan mewah. Tinggal bagaimana generasi sekarang mau mengenalnya kembali, sebelum nama asam kumbang benar-benar hanya tersisa di halaman buku dan cerita orang-orang tua (***)

