-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Orang Melayu Banyuasin Melarang Bergendang di Atas Meja?

Rabu, 03 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-03T01:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Di banyak rumah masyarakat Orang Melayu Banyuasin (OMB), orang tua dahulu kerap menegur anak-anak yang memukul-mukul atau bergendang di atas meja. Teguran itu biasanya disertai kalimat sederhana namun membekas di ingatan, "Jangan bergendang di meja, nanti banyak hutang." Bagi sebagian generasi muda, larangan tersebut mungkin terdengar seperti mitos biasa. Namun di balik pantangan itu tersimpan nilai budaya yang lebih dalam daripada sekadar ancaman akan datangnya kesulitan ekonomi. 


Dalam pandangan OMB, meja bukan hanya tempat meletakkan makanan atau perabot rumah tangga biasa. Meja menjadi simbol tempat berkumpul keluarga, tempat berbagi rezeki, sekaligus ruang yang menyatukan hubungan antarsesama. Karena itulah meja diperlakukan dengan hormat. Memukul-mukul atau bergendang di atasnya dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas terhadap simbol rezeki yang setiap hari dinikmati bersama.


Pantangan tersebut juga mengajarkan pentingnya tata krama dalam kehidupan sosial. Sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk menjaga sikap ketika berada di ruang bersama, terutama saat keluarga sedang makan atau menerima tamu. Larangan bergendang di meja menjadi cara sederhana yang digunakan orang tua untuk menanamkan nilai kesopanan, ketenangan, dan penghormatan kepada orang lain tanpa harus memberikan penjelasan panjang lebar. 


Menariknya, makna "hutang" dalam kepercayaan ini tidak selalu dipahami secara harfiah. Hutang dapat dimaknai sebagai konsekuensi dari perilaku yang kurang baik, baik dalam hubungan sosial maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang yang tidak menjaga sopan santun bisa saja menimbulkan masalah, menyinggung perasaan orang lain, atau merusak keharmonisan yang pada akhirnya harus diperbaiki kembali. Pesan inilah yang diwariskan secara turun-temurun melalui bahasa simbolik yang mudah dipahami masyarakat.


Di tengah arus modernisasi, pantangan seperti ini mulai jarang dibicarakan. Padahal, di baliknya tersimpan kearifan lokal yang mengajarkan rasa syukur atas rezeki, penghormatan terhadap nilai-nilai keluarga, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Bagi masyarakat Banyuasin, larangan bergendang di atas meja bukan sekadar mitos lama, melainkan bagian dari warisan budaya yang terus mengingatkan bahwa adab sering kali menjadi pondasi utama dalam menjalani kehidupan (***) 

×
Berita Terbaru Update