-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman Kena Tipu Pedagang Garam

Kamis, 21 Mei 2026 | 19.25 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-31T18:00:03Z
Ilustrasi

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Musim kemarau tahun itu datang lebih panjang dari biasanya. Air sungai mulai surut perlahan sampai tiang-tiang rumah panggung terlihat makin tinggi dari permukaan air. Perahu-perahu kecil yang biasa hilir mudik di tepian dusun mulai susah bergerak karena lumpur muncul di mana-mana. Orang-orang kampung pun mulai mengeluh sebab ikan makin sedikit dan harga garam di pasar tepian naik hampir dua kali lipat.


Sejak pagi balai marga sudah ramai oleh suara ibu-ibu yang menggerutu soal garam dapur. Ada yang mengeluh ikan asin cepat busuk, ada yang bilang sambal terasa hambar, bahkan Wak Senah ribut sendiri karena tempoyaknya terasa “macam lumpur sungai”. Depati Leman yang baru hendak menikmati kopi pagi terpaksa duduk mendengarkan semua keluhan itu satu per satu. Kumis tebalnya bergerak-gerak kecil setiap kali ada warga berbicara terlalu keras dekat telinganya.


“Kalau begini terus, bisa perang dapur satu dusun,” gerutu Depati Leman sambil meletakkan cangkir kopi.


Penggawo Budin yang memang paling suka membesar-besarkan keadaan langsung mengangguk cepat. Penggawo Budin berdiri di tengah balai sambil berkacak pinggang seperti sedang menyampaikan kabar perang besar dari hilir sungai.


“Betul, Depati Leman! Garam sekarang lebih susah dicari daripada ikan baung besar!”


Ketib Nurdin yang duduk di sudut balai hanya menghela napas kecil. Dari tadi Ketib Nurdin sebenarnya ingin bilang keadaan belum terlalu parah, tetapi ia sudah hafal tabiat Penggawo Budin yang selalu menambah bumbu dalam setiap cerita. Hulubalang Karim sendiri malah sibuk menggaruk kaki sambil mendengarkan setengah hati. Bagi Hulubalang Karim, selama nasi masih ada lauk ikan salai, hidup belum bisa disebut susah.


Menjelang siang, sebuah perahu dagang muncul dari tikungan sungai dekat pasar tepian. Perahu itu panjang dan berat, bagian tengahnya ditutupi terpal tua warna biru kusam. Seorang lelaki kurus berkumis tipis berdiri di atas perahu sambil melambaikan tangan ke arah warga. Suaranya keras sekali sampai orang-orang di pasar langsung menoleh bersamaan.


“Garam datang! Garam murah! Garam terbaik dari laut!”


Warga langsung bergerak ramai menuju tepian. Bahkan beberapa ibu-ibu sampai hampir berlari kecil sambil membawa bakul kosong. Depati Leman ikut keluar dari balai bersama Hulubalang Karim, Penggawo Budin, dan Ketib Nurdin. Dari kejauhan, pedagang itu tampak sangat pandai bicara dan tidak berhenti tersenyum kepada semua orang.


Namanya Jok Basir. Tubuhnya kurus tinggi dengan kulit agak hitam terbakar matahari. Matanya kecil dan bergerak cepat memperhatikan keadaan sekitar seperti biawak mengintai ikan di tepian. Jok Basir memakai baju lusuh warna coklat dengan kain tua melilit di pinggang, tetapi mulutnya licin sekali waktu berbicara.


“Ini garam pilihan,” kata Jok Basir sambil menepuk-nepuk karung besar di atas perahu. “Kalau masak pakai garam ini, ikan sungai pun bisa terasa macam ikan laut.”

Warga langsung mulai kagum mendengar kata-katanya.


Depati Leman mendekat perlahan sambil mengelus kumisnya. Sebagai depati senior, Depati Leman merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya paling mengerti urusan perdagangan di dusun. Ia lalu memeriksa salah satu karung sambil memasang wajah serius seperti saudagar besar dari kota Palembang.


“Hmm… garamnya putih juga,” kata Depati Leman bijak.


Padahal sebenarnya Depati Leman sendiri tidak terlalu paham cara membedakan garam bagus dan garam biasa.


Jok Basir cepat menangkap kesempatan itu. Dengan wajah hormat, Jok Basir langsung menundukkan kepala sedikit kepada Depati Leman.


“Kalau Depati Leman suka, saya bisa beri harga khusus.”

Penggawo Budin langsung menyikut Hulubalang Karim pelan.

“Nah, mulai itu.”

Hulubalang Karim menahan senyum kecil.


Jok Basir lalu membuka segenggam garam dan menunjukkannya ke semua warga. Garam itu memang tampak putih bersih dari luar. Orang-orang mulai berbisik kagum satu sama lain. Bahkan Wak Senah sampai bilang garam itu lebih putih daripada bedak pengantin.


“Kalau begitu,” kata Depati Leman sambil berdiri tegak, “seluruh dusun beli garam dari Jok Basir saja.”


Ketib Nurdin langsung menoleh cepat.

“Depati Leman sudah periksa semua karungnya?”

Depati Leman berdeham pelan.

“Tak perlu terlalu curiga pada orang dagang.”

Padahal sebenarnya Depati Leman malas memeriksa lebih lama karena cuaca siang sangat panas.


Sejak keputusan itu keluar, warga langsung membeli garam ramai-ramai. Karung demi karung diturunkan dari perahu Jok Basir. Pedagang itu tersenyum terus sampai matanya hampir hilang tertutup pipi. Bahkan sebelum sore datang, hampir seluruh garam dagangannya sudah habis dibeli warga dusun.

Malam harinya masalah mulai muncul. 


Di rumah Wak Senah, garam yang baru dibeli ternyata menggumpal seperti pasir basah waktu dipakai memasak ikan asin. Di rumah lain lebih parah lagi. Ada yang menemukan bagian bawah karung berisi campuran pasir halus dan tanah putih. Beberapa ibu-ibu langsung marah besar karena merasa ditipu mentah-mentah.


“Ini bukan garam!”

“Ini lumpur sungai dikeringkan!”

“Pedagang itu penipu!”


Keesokan paginya balai marga kembali penuh oleh warga yang marah-marah. Karung-karung garam dibawa sebagai barang bukti. Depati Leman yang baru bangun tidur langsung pening melihat semua orang berteriak bersamaan. Bahkan Wak Senah melempar segenggam garam campur pasir ke lantai balai sampai debunya beterbangan.


“Nah lihat itu, Depati Leman! Katanya garam terbaik!”

Penggawo Budin mengambil sedikit garam lalu mencicipinya. Wajah Penggawo Budin langsung berubah aneh seperti orang salah makan obat.


“Ini mah rasa dinding dapur.”

Hulubalang Karim tertawa kecil sampai pundaknya goyang.


Depati Leman mulai salah tingkah. Ia tidak enak hati karena kemarin terlalu cepat percaya pada Jok Basir di depan warga. Namun sebagai depati, Depati Leman juga tidak mau terlihat malu di depan satu dusun.


“Mungkin… mungkin ini karung yang salah,” kata Depati Leman pelan.

“Semua karung salah!” teriak warga bersamaan.


Ketib Nurdin akhirnya angkat bicara. Sedari awal Ketib Nurdin sebenarnya sudah curiga pada Jok Basir yang terlalu banyak bicara manis. Menurut Ketib Nurdin, orang dagang yang benar biasanya lebih sibuk menimbang barang daripada memuji dagangannya sendiri.


“Perahu Jok Basir belum jauh,” kata Ketib Nurdin tenang. “Kalau cepat, masih bisa dikejar.”


Mendengar itu, Hulubalang Karim langsung bersemangat. Hulubalang Karim segera mengambil tombaknya walaupun sebenarnya tidak ada hubungannya dengan menangkap pedagang garam. Penggawo Budin juga ikut ribut memanggil warga seperti hendak perang besar di sungai.


Tak lama kemudian beberapa perahu kecil meluncur mengejar Jok Basir menyusuri sungai yang mulai surut. Depati Leman ikut di perahu paling depan sambil memegang tongkat kebesarannya. Wajah Depati Leman tampak serius sekali, walaupun diam-diam ia malu karena merasa sudah dipermainkan di depan satu dusun.


Menjelang tengah hari, perahu Jok Basir akhirnya terlihat di tikungan sungai kecil dekat hutan nipah. Pedagang itu tampak panik waktu melihat rombongan warga datang mengejarnya. Jok Basir langsung mencoba mendayung lebih cepat, tetapi perahunya terlalu berat.


“Berhenti!” teriak Hulubalang Karim dari jauh.

“Kalau tidak berhenti, saya lapor ke Depati Leman!” sahut Penggawo Budin. 


Ketib Nurdin yang mendengar itu langsung menepuk dahinya sendiri.


Jok Basir akhirnya tertangkap di sebuah tepian berlumpur. Warga langsung mengepung perahunya sambil membawa karung-karung garam palsu. Jok Basir masih mencoba tersenyum walaupun wajahnya sudah pucat.


“Mungkin cuma salah campur sedikit…”

“Sedikit kepala kau!” bentak Wak Senah.


Depati Leman turun dari perahu dengan langkah perlahan supaya tetap terlihat berwibawa. Ia berdiri di depan Jok Basir sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi.


“Kau sudah menipu satu dusun.”

Jok Basir menelan ludah pelan.

“Saya khilaf, Depati Leman.


Depati Leman sebenarnya ingin marah lebih keras, tetapi ia teringat bahwa dirinya sendiri yang paling dulu percaya pada pedagang itu. Akhirnya Depati Leman hanya menghela napas panjang sambil membetulkan songkok batiknya.


“Lain kali kalau berdagang, jangan campur garam dengan pasir.”


Jok Basir cepat-cepat mengangguk.


“Dan lain kali,” sambung Ketib Nurdin sambil melirik ke arah Depati Leman, “kalau membeli barang jangan cuma percaya karena dipuji-puji.”


Hulubalang Karim langsung menahan tawa sambil menunduk. Penggawo Budin pura-pura batuk supaya tidak ikut tertawa keras. Sedangkan warga dusun mulai saling menyenggol sambil tersenyum geli melihat wajah Depati Leman yang mendadak diam sendiri memandang sungai (***) 

×
Berita Terbaru Update