-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pak Pandir Berburu Hujan

Jumat, 31 Juli 2026 | 15.41 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-31T08:41:28Z

Pak Pandir Berburu Hujan


Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Pagi itu matahari sudah tinggi, tetapi tanah dusun masih tampak retak-retak akibat kemarau yang berkepanjangan. Rumput di halaman balai dusun berubah kekuningan dan daun-daun pisang mulai menggulung karena kekurangan air. Tempayan-tempayan di depan rumah warga hampir kosong sehingga mereka harus menghemat setiap kendi air yang masih tersisa. Suasana dusun terasa lengang karena sebagian besar warga lebih memilih berteduh daripada beraktivitas di bawah terik matahari.


Kerio Rahmad sejak pagi sudah duduk di serambi balai dusun sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan topi pandan. Sebagai kepala dusun, ia mulai khawatir melihat sawah yang semakin mengering dan kebun-kebun warga yang mulai kehilangan kesegarannya. Sesekali ia memandang langit biru yang bersih tanpa sepotong awan pun. Semakin lama dipandang, langit itu justru membuat wajah Kerio Rahmad semakin kusut.


Di dekatnya, Penggawo Juhri sedang sibuk mencatat keadaan dusun di dalam buku kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana. Ia baru saja selesai mendata jumlah tempayan warga yang sudah mulai kosong dan sumur-sumur yang airnya semakin menyusut. Berkali-kali ia menghela napas panjang karena belum pernah mengalami kemarau selama ini. Meski begitu, ia tetap berusaha tenang agar Kerio Rahmad tidak semakin cemas.


"Aku khawatir kalau beberapa hari lagi hujan belum turun, sawah kita bisa gagal panen," kata Kerio Rahmad.

Penggawo Juhri mengangguk pelan. "Benar, Rio. Orang sekarang lebih sering melihat debu daripada embun."


Belum sempat keduanya melanjutkan pembicaraan, terdengar suara siulan riang dari ujung jalan. Semua orang menoleh karena hanya satu orang di dusun yang masih bisa bersiul gembira ketika seluruh kampung sedang dirundung kekhawatiran. Tak lama kemudian tampaklah Pak Pandir berjalan santai sambil tersenyum lebar. Ia mengenakan baju teluk belango hijau lusuh, kopiah hitam yang miring ke kiri, dan kain sarung yang diselempangkan di bahunya.


Yang membuat semua orang semakin heran adalah barang-barang yang dibawanya. Di tangan kanan Pak Pandir tergenggam sebuah jaring ikan yang cukup besar, sedangkan tangan kirinya membawa dua buah ember tua yang sudah penyok. Di pundaknya masih tergantung seutas tali panjang yang entah akan dipakai untuk apa. Melihat pemandangan itu, Kerio Rahmad langsung mengernyitkan dahi.


"Pandir, hendak ke mana membawa jaring seperti itu?" tanya Kerio Rahmad.

"Mau berburu," jawab Pak Pandir santai.

"Memburu apa?"

"Hujan."


Penggawo Juhri spontan menghentikan tulisannya. Ia menatap Pak Pandir beberapa saat untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. Kerio Rahmad bahkan sampai melepas topi pandannya karena mengira telinganya sedang bermasalah. Namun wajah Pak Pandir tetap terlihat sangat serius seolah-olah berburu hujan adalah pekerjaan yang paling biasa di dunia.


"Memangnya hujan bisa diburu?" tanya Penggawo Juhri.

Pak Pandir mengangguk mantap. "Bisa. Selama ini orang hanya menunggu hujan. Tidak pernah ada yang mengejarnya. Pantas saja hujan malas datang."

Kerio Rahmad menepuk dahinya pelan. "Aku baru saja mulai pusing."


Pak Pandir kemudian melangkah menuju bukit kecil di belakang dusun tanpa sedikit pun ragu. Penggawo Juhri terpaksa mengikuti dari belakang karena takut Pak Pandir kembali membuat perkara seperti ketika mengadakan sidang kambing memakai kentongan balai dusun. Beberapa anak yang sedang bermain gasing ikut berlarian mengikuti mereka karena penasaran dengan rencana berburu hujan itu. Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak pula warga yang ikut menguntit sambil menahan tawa.


Sesampainya di atas bukit, Pak Pandir langsung membuka jaring ikannya selebar mungkin. Ia berdiri menghadap langit dengan kedua tangan terangkat tinggi seolah-olah sedang menunggu sesuatu jatuh dari angkasa. Angin sesekali meniup jaring itu hingga berkibar ke kiri dan ke kanan. Anak-anak yang melihatnya mulai saling berbisik sambil tertawa kecil.


"Apa yang sedang kau lakukan, Pandir?" tanya Penggawo Juhri.

"Menunggu awan lewat."

"Lalu?"

"Kalau sudah dekat, langsung kutangkap."

Seorang anak kecil yang sedari tadi memperhatikan dengan polos mengangkat tangan.


"Kalau awannya besar bagaimana, Pak Pandir?"

Pak Pandir tersenyum. "Kusuruh dia mengecil dulu."


Gelak tawa langsung pecah di atas bukit. Bahkan beberapa ibu yang ikut menonton sampai harus memegang perut karena tidak mampu menahan tawa. Penggawo Juhri hanya bisa memandang langit sambil mengusap wajahnya sendiri. Dalam hati ia berharap hujan benar-benar turun agar sandiwara Pak Pandir segera berakhir.


Tak lama kemudian seekor burung kuntul melintas rendah di atas bukit. Pak Pandir buru-buru mengangkat jaringnya lebih tinggi sambil melompat-lompat mengejar arah burung itu. Burung tersebut terkejut lalu terbang menjauh ke arah rawa. Pak Pandir justru menghela napas panjang seolah-olah baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


"Nah, itu dia!" seru Pak Pandir.

"Itu burung," kata Penggawo Juhri.

"Bukan. Itu pengawal hujan."


Penggawo Juhri tidak lagi mencoba membantah. Ia merasa semakin dijelaskan, jawaban Pak Pandir justru semakin jauh dari akal sehat. Kerio Rahmad yang baru tiba di atas bukit hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil duduk di bawah pohon. Ia sudah hafal bahwa setiap kali Pak Pandir mulai menjelaskan sesuatu, kepalanya pasti akan ikut pening.


Merasa jaring belum cukup ampuh, Pak Pandir kemudian meletakkan dua ember di tanah dengan posisi menghadap ke atas. Ember itu disusunnya berjajar seperti sedang menunggu tamu penting. Setelah selesai, ia mundur beberapa langkah lalu mengangguk puas melihat hasil pekerjaannya. Semua warga kembali dibuat bingung oleh tingkahnya.


"Itu ember untuk apa?" tanya Penggawo Juhri.

"Supaya hujan tahu tempat mendarat."

"Lho?"

"Kalau tamu datang kita sediakan kursi. Masa hujan tidak disediakan ember?"


Kali ini tawa warga benar-benar tidak terbendung lagi. Beberapa anak bahkan sampai berguling-guling di rumput sambil menirukan gaya Pak Pandir memasang ember. Berita tentang Pak Pandir yang sedang berburu hujan pun dengan cepat menyebar ke seluruh dusun. Menjelang sore, hampir semua warga sudah berkumpul di atas bukit hanya untuk menyaksikan kelakuannya.


Di tengah keramaian itu, Pak Pandir tiba-tiba berdiri di atas sebuah batu besar. Dengan kedua tangan di depan mulut seperti corong, ia berteriak ke arah langit sekeras-kerasnya. Suaranya menggema sampai ke kebun kelapa di bawah bukit. Namun langit tetap tenang tanpa memberikan jawaban sedikit pun.


"Hujan! Turunlah! Jangan malu-malu! Semua sudah menunggu!"

Beberapa saat kemudian, Pak Pandir menoleh kepada Penggawo Juhri.

"Sepertinya hujannya tuli."

"Mengapa begitu?"

"Sudah kupanggil keras-keras, tidak menyahut."


Menjelang petang, dari arah barat mulai muncul segumpal awan hitam. Pak Pandir langsung melonjak kegirangan sambil menunjuk ke langit. Tanpa berpikir panjang, ia berlari mengejar bayangan awan sambil membawa jaring di atas kepalanya. Penggawo Juhri ikut mengejar Pak Pandir, sedangkan Kerio Rahmad mengejar Penggawo Juhri karena takut bawahannya celaka. Anak-anak dan warga yang menonton pun spontan ikut berlari sehingga dari kejauhan rombongan itu tampak seperti sedang mengikuti perlombaan lari paling aneh di dunia.


Ketika sedang asyik berlari, kaki Pak Pandir tiba-tiba menginjak lumpur bekas kubangan kerbau yang mulai mengering. Tubuhnya langsung terpeleset hingga jaring melayang ke udara, sedangkan kedua ember berguling ke segala arah. Penggawo Juhri yang berusaha menolong malah ikut tersandung ember dan jatuh tepat di samping Pak Pandir. Melihat dua orang itu berguling-guling di tanah, seluruh warga langsung tertawa sampai ada yang harus berjongkok karena tidak kuat menahan geli.


Belum sempat tawa mereka reda, angin bertiup semakin kencang. Awan hitam yang semula hanya sedikit kini semakin banyak berkumpul di atas dusun. Setetes air tiba-tiba jatuh tepat di ujung hidung Pak Pandir. Tidak lama kemudian rintik-rintik berubah menjadi hujan deras yang sudah lama dinanti seluruh warga.


Anak-anak segera berlari bermain hujan sambil berteriak kegirangan. Para petani mengangkat tangan ke langit sebagai ungkapan syukur karena sawah mereka akhirnya akan kembali mendapatkan air. Penggawo Juhri yang bajunya penuh lumpur justru tertawa lega melihat hujan benar-benar turun. Bahkan Kerio Rahmad yang sejak tadi berusaha mempertahankan wibawanya akhirnya ikut tersenyum lebar.


Pak Pandir berdiri tegak di tengah hujan sambil membusungkan dada. Wajahnya tampak begitu bangga seolah-olah dialah penyebab turunnya hujan hari itu. Air hujan membasahi kopiah, baju, dan sarungnya, tetapi senyumnya sama sekali tidak berkurang. Ia lalu menatap Kerio Rahmad dan Penggawo Juhri dengan penuh kemenangan.


"Lihat, kan? Berburu hujan memang capai, tapi hasilnya ada."

"Itu bukan karena kau," kata Penggawo Juhri.

"Bukan?"

"Bukan."

"Lalu mengapa hujan turun tepat ketika aku mengejarnya?"


Semua orang saling berpandangan. Tak seorang pun sanggup menjawab logika Pak Pandir yang selalu berhasil memutarbalikkan keadaan. Sesaat kemudian Pak Pandir memeras jaringnya yang sudah basah sambil mengangguk-angguk puas. Dengan wajah yang benar-benar serius ia berkata, "Nah, sekarang hujannya sudah tertangkap. Besok kita jemur saja. Kalau kemarau datang lagi, tinggal kita pakai kembali."


Balai dusun kembali dipenuhi gelak tawa yang terdengar sampai ke tepi sungai. Kerio Rahmad akhirnya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Penggawo Juhri hanya bisa duduk di tanah karena sudah kehabisan tenaga untuk membantah. Sejak hari itu, setiap kali hujan turun di Dusun Suka Maju, selalu ada warga yang berseloroh bahwa hujan tersebut adalah "hasil buruan" Pak Pandir. Dan setiap kali mendengar ucapan itu, Pak Pandir selalu tersenyum bangga seolah-olah ia memang pemburu hujan paling hebat di seluruh Tanah Banyuasin (***) 

×
Berita Terbaru Update