![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Di tengah maraknya makanan modern, Orang Melayu Banyuasin masih menyimpan satu kekayaan kuliner yang sederhana, tetapi sarat nilai budaya. Namanya pucuk putat, lalapan tradisional yang sejak dahulu menjadi teman setia nasi hangat, ikan sungai bakar, pindang, hingga sambal terasi. Meski tampilannya sangat sederhana, pucuk putat menyimpan kisah panjang tentang hubungan masyarakat Banyuasin dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Bagi sebagian generasi muda, nama putat mungkin terdengar asing. Padahal, dahulu hampir setiap keluarga di kawasan tepian sungai dan rawa mengenalnya. Pohon putat tumbuh subur di lahan basah, sehingga mudah ditemukan oleh masyarakat yang sehari-hari hidup berdampingan dengan sungai. Saat musimnya tiba, daun-daun mudanya dipetik untuk dijadikan lalapan segar.
Dalam ilmu botani, putat dikenal dengan nama Planchonia valida dan termasuk dalam suku Lecythidaceae. Pohon ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah rawa dan bantaran sungai. Di Banyuasin, keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem, tetapi juga menjadi sumber pangan alami yang diwariskan secara turun-temurun.
Keistimewaan pucuk putat justru terletak pada cara penyajiannya yang sangat sederhana. Daun muda yang baru dipetik cukup dicuci hingga bersih, kemudian langsung disajikan di atas piring sebagai lalapan. Tidak perlu direbus ataupun dimasak. Kesegaran daun muda itulah yang menjadi daya tarik utama saat disantap bersama berbagai lauk khas Melayu Banyuasin.
Rasa pucuk putat memiliki ciri khas tersendiri. Teksturnya renyah dengan sedikit sensasi sepat yang justru menambah selera makan. Perpaduannya dengan sambal terasi, sambal tempoyak, ikan bakar, ikan asin, atau pindang menciptakan cita rasa yang begitu akrab bagi lidah masyarakat Banyuasin. Tidak sedikit orang yang mengaku makan terasa kurang lengkap jika belum ada lalapan segar di atas meja.
Dalam Direktori Kuliner Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, pucuk putat dicatat sebagai salah satu lalapan tradisional masyarakat. Cara penyajiannya sangat sederhana, yakni dimakan bersama nasi dan aneka lauk, baik saat makan siang maupun makan malam. Kesederhanaan tersebut mencerminkan filosofi masyarakat Melayu yang menghargai bahan pangan alami tanpa harus melalui proses pengolahan yang rumit.
Selain dikenal sebagai pelengkap makanan, pucuk putat juga dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Sejak dahulu masyarakat memanfaatkannya untuk membantu menjaga kesehatan saluran pernapasan, menjaga kondisi lambung, serta mengurangi keluhan akibat meningkatnya asam lambung seperti maag, perut mulas, dan kembung. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari kearifan lokal.
Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa daun putat mengandung berbagai senyawa alami, seperti flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid. Berbagai senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Meski demikian, manfaat tersebut masih terus diteliti sehingga penggunaannya tetap lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola konsumsi pangan sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Yang menarik, masyarakat Melayu Banyuasin tidak pernah menganggap pucuk putat sebagai makanan istimewa. Justru karena mudah diperoleh di sekitar lingkungan, lalapan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mengonsumsi sayuran segar dari alam menunjukkan betapa masyarakat terdahulu telah menerapkan pola makan yang selaras dengan lingkungan jauh sebelum istilah "back to nature" menjadi tren.
Kini, keberadaan pucuk putat mulai semakin jarang ditemukan. Berkurangnya kawasan rawa alami, perubahan pola konsumsi, dan minimnya pengetahuan generasi muda membuat lalapan tradisional ini perlahan terlupakan. Padahal, di balik selembar daun mudanya tersimpan identitas kuliner Melayu Banyuasin yang tidak dimiliki daerah lain.
Melestarikan pucuk putat berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah makanan. Di dalamnya terdapat sejarah, budaya, pengetahuan lokal, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Sudah saatnya kekayaan kuliner seperti pucuk putat kembali diperkenalkan kepada generasi muda, agar warisan leluhur Orang Melayu Banyuasin tetap hidup dan terus menjadi kebanggaan di masa depan (***)
