-->

Notification

×

Iklan

Iklan

“Prabowo Sudah 45 Kali Keluar Negeri, Jek Pakis Baru 45 Kali Keluar Kampung”

Selasa, 02 Juni 2026 | 11.03 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-02T04:40:15Z
Ilustrasi

Di bawah pohon beringin yang sudah lebih terkenal di kampung daripada kantor desa, Mang Midun sedang menghitung uang recehan hasil jualan kopi dan gorengan. Jek Pakis baru datang dari pangkalan ojek dengan wajah yang lebih kusut dari jaketnya, sementara Mak Irah sibuk mengupas singkong. Obrolan sore itu dimulai dari berita yang sedang ramai: Presiden Prabowo Subianto disebut sudah melakukan 45 kali kunjungan kerja ke luar negeri sejak menjabat. Mang Midun langsung bersiul pelan. “Empat puluh lima kali? Aku ini ke Palembang saja masih mikir-mikir ongkos.”


Jek Pakis tertawa sambil menepuk jok motornya. “Kalau aku dihitung-hitung, mungkin sudah 45 kali keluar kampung tahun ini. Tapi ujungnya tetap balik ke pangkalan yang sama.” Mak Irah langsung menyambar, “Bedanya, Pakis keluar kampung cari penumpang. Presiden keluar negeri cari kerja sama.” Jek Pakis mengangguk. “Iya sih, tapi kalau aku pulang nggak bawa penumpang, dapur di rumah bisa protes. Kalau presiden pulang dari luar negeri, rakyat juga berharap ada oleh-olehnya.”


Mang Midun menyeruput kopi lalu berkata, “Sebenarnya aku senang saja kalau presiden rajin keliling dunia. Siapa tahu investor datang, ekonomi bergerak, dan warungku bisa jual kopi sampai ke Norwegia.” Mak Irah langsung tertawa terpingkal-pingkal. “Warung kau itu jangankan ke Norwegia, Midun. Kucing kampung sebelah saja masih ngutang gorengan.” Mereka bertiga pun tertawa sampai daun-daun beringin ikut bergoyang.


Namun seperti biasa, di balik tawa selalu ada sedikit ironi. Jek Pakis memandang jalan kampung yang berlubang di depan mereka. “Kadang rakyat ini sederhana. Kalau dengar presiden ke luar negeri, yang dibayangkan bukan pertemuan internasional atau investasi miliaran dolar. Yang dibayangkan itu jalan rusak cepat diperbaiki, harga beras stabil, dan anak sekolah nggak perlu pinjam uang buat beli buku.” Mang Midun mengangguk pelan. “Karena ukuran sukses bagi rakyat kecil itu beda. Bukan berapa negara yang dikunjungi, tapi berapa masalah yang selesai.”


Mak Irah yang paling bijak sore itu lalu berkata, “Tapi kita juga jangan buru-buru nyinyir. Dunia sekarang memang saling terhubung. Presiden harus bicara dengan banyak negara. Masalahnya, rakyat ini ingin melihat hasilnya. Kalau bapak-bapak pergi memancing lima kali dan pulang tanpa ikan, emak-emak pasti mulai curiga.” Jek Pakis langsung tertawa keras. “Nah, itu perumpamaan yang paling berbahaya bagi pejabat.”


Menjelang magrib, obrolan pun berakhir. Mang Midun kembali ke warungnya, Jek Pakis menyalakan motor tuanya, dan Mak Irah beranjak pulang membawa singkong yang belum habis dikupas. Di bawah pohon beringin, mereka sepakat pada satu hal: bepergian jauh bukan masalah, selama rakyat bisa merasakan manfaatnya. Sebab bagi orang kecil, keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari stempel paspor yang penuh, melainkan dari apakah hidup mereka menjadi sedikit lebih ringan dibanding kemarin. Dan itu, kata Mang Midun, jauh lebih sulit daripada terbang keliling dunia (***) 

×
Berita Terbaru Update