-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mie Celor, Rasa yang Menyatukan Sungai Musi hingga Pesisir Banyuasin

Sabtu, 13 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-13T02:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Bagi masyarakat Melayu Banyuasin, nama Mie Celor tentu bukan sesuatu yang asing. Meskipun hidangan ini lebih dikenal sebagai kuliner khas Palembang, kehadirannya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang mendiami kawasan sepanjang Sungai Musi hingga wilayah pesisir Banyuasin. Di warung-warung kopi, pasar tradisional, hingga rumah-rumah warga, semangkuk Mie Celor hangat sering menjadi pilihan untuk memulai hari.


Keistimewaan Mie Celor bukan hanya terletak pada kuah santannya yang gurih atau mi kuningnya yang kenyal. Di balik semangkuk makanan tersebut tersimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkan berbagai bangsa, budaya, dan tradisi yang pernah berkembang di bumi Sriwijaya.


Sepiring mie celor

Sejak berabad-abad lalu, kawasan Sungai Musi dan anak-anak sungainya menjadi jalur perdagangan yang ramai. Kapal-kapal dagang dari berbagai negeri singgah membawa barang, budaya, dan kebiasaan baru. Salah satu pengaruh yang cukup kuat datang dari para pedagang dan perantau Tionghoa yang menetap di sepanjang daerah aliran sungai.


Masyarakat Tionghoa membawa tradisi mengolah mi yang telah dikenal sejak lama. Salah satu hidangan yang diyakini memiliki hubungan dengan lahirnya Mie Celor adalah Lo Mie, sajian mi berkuah kental yang populer dalam tradisi kuliner Tionghoa. Namun ketika hidangan tersebut bertemu dengan masyarakat Melayu di wilayah Palembang dan sekitarnya, termasuk Banyuasin, terjadilah proses penyesuaian yang melahirkan cita rasa baru.


Orang Melayu memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan mereka. Kelapa yang tumbuh subur di kawasan pesisir dijadikan santan untuk memperkaya kuah. Sementara itu, hasil perairan seperti udang menjadi sumber rasa gurih yang khas. Perpaduan kedua unsur tersebut menciptakan karakter Mie Celor yang berbeda dari hidangan asalnya.


Bagi masyarakat Banyuasin yang hidup dekat dengan sungai, rawa, dan laut, penggunaan udang dalam kuah Mie Celor terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak mengherankan jika makanan ini cepat diterima dan kemudian menjadi salah satu hidangan yang akrab di berbagai kalangan. 


Nama "celor" sendiri berasal dari istilah Melayu yang berarti mencelupkan sesuatu ke dalam air panas. Nama tersebut menggambarkan teknik memasak yang masih digunakan hingga sekarang. Mi kuning dan tauge dimasukkan ke dalam saringan, lalu dicelupkan beberapa kali ke dalam air mendidih sebelum disajikan.


Cara memasak sederhana ini memiliki tujuan tersendiri. Mi tetap terasa kenyal, sementara tauge tidak kehilangan kerenyahannya. Hasil akhirnya adalah perpaduan tekstur yang membuat Mie Celor memiliki ciri khas yang sulit ditemukan pada hidangan mi lainnya.


Di Banyuasin, budaya sarapan dengan makanan berkuah hangat bukanlah hal baru. Masyarakat yang sejak pagi telah beraktivitas di kebun, sawah, sungai, maupun pasar membutuhkan makanan yang cukup mengenyangkan. Karena itulah Mie Celor sangat cocok disantap pada pagi hari.


Banyak orang tua masih mengingat bagaimana warung-warung sederhana di tepian jalan atau dekat pasar selalu ramai oleh pembeli yang menikmati semangkuk Mie Celor sebelum memulai pekerjaan. Sambil menyeruput kuah hangat, mereka berbincang tentang hasil tangkapan ikan, harga hasil kebun, atau kabar dari kampung sebelah.


Suasana semacam itu menjadikan Mie Celor lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi bagian dari ruang sosial tempat masyarakat saling bertemu dan berbagi cerita. Dari generasi ke generasi, tradisi tersebut terus hidup meskipun zaman telah berubah. 


Hingga kini, Mie Celor tetap menjadi salah satu ikon kuliner yang membanggakan masyarakat Sumatera Selatan. Di berbagai daerah Banyuasin, hidangan ini masih mudah ditemukan dan tetap digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.


Mungkin itulah sebabnya Mie Celor tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat. Semangkuk mi berkuah santan dan udang itu bukan hanya menawarkan rasa yang lezat, tetapi juga menghadirkan kembali kisah panjang tentang pertemuan budaya, kehidupan masyarakat sungai, serta warisan kuliner Melayu yang terus bertahan di tengah perubahan zaman (***) 

×
Berita Terbaru Update