![]() |
| Talam Kapur |
Talam Kapur merupakan salah satu jajanan pasar khas Melayu Banyuasin yang hingga kini masih bertahan di tengah arus modernisasi kuliner. Kue tradisional ini bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari keseharian dan tradisi Orang Melayu Banyuasin (OMB). Ia hadir di meja sarapan, dihidangkan saat sore hari, dan kerap menjadi bagian dari sajian sedekahan maupun hajatan keluarga.
Nama “kapur” pada Talam Kapur merujuk pada penggunaan air kapur sirih dalam adonannya. Bahan ini tidak memberi rasa kapur, melainkan berfungsi memperkuat tekstur sehingga kue menjadi kenyal, padat, dan tidak mudah hancur. Dalam tradisi dapur Melayu, air kapur sirih memang lazim digunakan untuk menjaga struktur adonan sekaligus membantu daya tahan kue agar tidak cepat rusak.
Bahan-bahan Talam Kapur tergolong sederhana dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat kampung. Tepung beras dan tepung tapioka menjadi dasar adonan, menghasilkan perpaduan tekstur lembut sekaligus kenyal. Gula merah yang disisir halus memberi warna cokelat alami serta rasa manis yang dalam dan legit, sementara sedikit gula pasir menyeimbangkan cita rasanya. Daun pandan yang disobek lalu disimpulkan menghadirkan aroma wangi yang khas, memperkaya karakter rasa kue ini.
Proses pembuatannya menuntut ketelitian. Air gula dimasak hingga larut sempurna, kemudian disaring agar bersih dari kotoran. Tepung beras dan tapioka dicampur bersama garam, lalu dimasukkan air kapur sirih dan air gula sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga halus tanpa gumpalan. Konsistensi adonan biasanya cair, menyerupai adonan kue lapis, sebelum kemudian dikukus dalam loyang yang telah dioles tipis minyak.
Kukusan harus benar-benar panas dan beruap banyak sebelum loyang dimasukkan. Dalam kebiasaan dapur tradisional, penutup kukusan dibungkus kain agar uap air tidak menetes ke permukaan adonan. Setelah matang, kue dikeluarkan dari loyang dan digulung memanjang, lalu dipotong menyerong menjadi bagian-bagian kecil. Setiap potongan disajikan dengan taburan kelapa parut kasar yang telah diberi sedikit garam sehingga menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih yang seimbang.
Di lingkungan OMB, Talam Kapur memiliki fungsi sosial yang lebih luas daripada sekadar panganan. Kue ini mudah dibagi dan dinikmati bersama, sehingga cocok untuk acara kebersamaan seperti tahlilan, syukuran, atau sedekah kampung. Sifatnya yang sederhana justru membuatnya akrab dengan berbagai lapisan masyarakat, dari dapur rumah tangga hingga acara adat.
Di tengah menjamurnya makanan instan dan jajanan modern, Talam Kapur tetap menyimpan daya tarik tersendiri. Ia merepresentasikan ketekunan, kesederhanaan, dan kearifan dapur Melayu Banyuasin. Aroma pandan yang mengepul dari kukusan, warna cokelat alami dari gula merah, serta taburan kelapa parut di atasnya seakan membawa ingatan pada suasana kampung dan kebersamaan keluarga.
Menjaga keberadaan Talam Kapur berarti merawat ingatan kolektif tentang tradisi kuliner OMB. Dalam sepotong kue yang kenyal dan manis itu, tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, serta kesinambungan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi (***)
