-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuau Raja dan Pemburu

Senin, 29 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-29T02:00:00Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Pagi itu hutan rawa di Tanah Banyuasin masih diselimuti embun. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan gelam dan memantul di permukaan air rawa yang tenang. Burung-burung kecil berkicau dari berbagai arah, sementara angin membawa harum buah-buahan hutan yang sedang masak. Kuau Raja berjalan santai di antara akar-akar pohon sambil mencari buah bedaro yang jatuh.


Ketika sedang asyik mematuk buah, telinganya menangkap suara ranting yang patah. Kuau Raja segera melompat ke balik akar pohon besar lalu mengintip dengan hati-hati. Dari balik semak muncul seorang pemburu yang membawa senapan dan keranjang rotan di punggungnya. Matanya terus menyapu pepohonan seolah sedang mencari sesuatu yang sangat berharga.


Tak lama kemudian pemburu itu melihat Kuau Raja yang berdiri di bawah sinar matahari. Bulu cokelatnya tampak berkilau, sedangkan kepala birunya terlihat mencolok di tengah rimbunnya hutan. Pemburu itu langsung tersenyum lebar karena belum pernah melihat burung seindah itu. Ia pun mulai berjalan perlahan agar mangsanya tidak terbang.


"Nah... burung itu pasti laku mahal," gumam pemburu.


Kuau Raja justru tersenyum kecil. Bukannya terbang menjauh, ia malah berdiri tenang sambil pura-pura merapikan bulunya. Ia sengaja membuat pemburu merasa bahwa dirinya mudah ditangkap. Dalam hati, Kuau Raja sudah menyiapkan sebuah akal yang membuatnya sendiri ingin tertawa.


"Ayo... sedikit lagi," bisik Kuau Raja pelan."


Pemburu semakin yakin bahwa keberuntungannya sedang datang. Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Kuau Raja meloncat ke batang kayu lain yang berada tidak jauh di depannya. Pemburu segera mengejar dengan penuh semangat. Namun setiap kali ia hampir menyentuh burung kecil itu, Kuau Raja selalu berpindah ke tempat lain yang tampak dekat tetapi tetap berada di luar jangkauan.


"Wah... hampir dapat!" seru pemburu.


"Memang hampir," jawab Kuau Raja sambil terkekeh.


Begitulah mereka terus bergerak masuk semakin dalam ke hutan rawa. Tanpa disadari, pemburu sudah jauh meninggalkan jalan yang biasa dilewati orang. Di depan mereka terbentang sebuah rawa berlumpur yang permukaannya tertutup rumput tipis. Dari kejauhan rawa itu tampak seperti tanah padat sehingga siapa pun mudah tertipu.


Kuau Raja dengan ringan melompat ke atas batang kayu tua yang melintang di atas rawa. Tubuhnya yang kecil membuat batang kayu itu tetap kokoh dan tidak bergoyang. Dari tempat itu ia sengaja menoleh ke belakang sambil mengepakkan sayapnya perlahan. Tingkahnya membuat pemburu semakin yakin bahwa kali ini ia pasti berhasil menangkap burung tersebut. 


"Jangan lari lagi!" teriak pemburu.


"Aku menunggumu," jawab Kuau Raja.


Mendengar jawaban itu, pemburu langsung mempercepat langkah. Ia tidak lagi memperhatikan tanah yang diinjak karena seluruh perhatiannya tertuju kepada Kuau Raja. Baru dua langkah memasuki rawa, kaki kirinya tiba-tiba tenggelam ke dalam lumpur. Ketika ia mencoba menariknya keluar, kaki kanannya justru ikut terperosok lebih dalam.


"Astaga!"


Kuau Raja tertawa kecil hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia mengepakkan sayapnya sambil melihat pemburu yang sibuk berusaha membebaskan kedua kakinya. Lumpur yang lengket membuat setiap gerakan terasa semakin berat. Semakin kuat pemburu meronta, semakin dalam pula tubuhnya masuk ke rawa.


"Katanya aku yang tidak bisa lari." 


"Tolong!" seru pemburu.


Kuau Raja menggeleng sambil tersenyum.


"Kalau aku menolongmu, nanti kau mengejarku lagi." 


Suara ribut itu rupanya menarik perhatian Monyet Ekor Panjang yang sedang bergelantungan di atas pohon. Monyet segera mendekat lalu tertawa terbahak-bahak melihat pemburu yang berlumuran lumpur. Tak lama kemudian beberapa ekor Belibis ikut berenang mendekat dari arah rawa. Mereka saling berpandangan lalu ikut terkekeh melihat pemandangan yang menurut mereka sangat lucu.


"Sudah kubilang, jangan mengejar burung yang kelihatan terlalu santai," kata Monyet Ekor Panjang.


"Mungkin dia mengira rawa ini jalan setapak," celetuk salah seekor Belibis.


Pemburu akhirnya berhasil keluar dari lumpur setelah berpegangan pada akar pohon yang menjulur ke tepi rawa. Bajunya penuh lumpur hitam, keranjang rotannya hampir terlepas, bahkan sebelah sandalnya tertinggal entah di mana. Dengan napas tersengal-sengal, ia memandang ke arah tempat Kuau Raja tadi berdiri. Namun burung kecil itu kini sudah bertengger di pucuk pohon yang tinggi.


"Terima kasih sudah mau ikut jalan-jalan," seru Kuau Raja sambil tertawa.


Pemburu hanya bisa menggeleng pelan. Ia menatap Kuau Raja beberapa saat sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil. Perjalanannya hari itu tidak membawa seekor burung pun, tetapi justru memberinya sekujur tubuh yang dipenuhi lumpur. Sementara itu Kuau Raja mengepakkan sayapnya dengan riang lalu terbang menghilang di atas hutan rawa Banyuasin, diiringi tawa Monyet Ekor Panjang dan suara riuh Belibis yang masih menggema di sepanjang tepian rawa (***) 

×
Berita Terbaru Update