![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
BANYUASIN POS – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan Kamis pagi (4/6/2026). Dolar Amerika Serikat terus menguat hingga berada di level Rp17.979 per dolar AS, membuat mata uang Garuda semakin dekat dengan posisi terlemahnya dalam satu tahun terakhir.
Data perdagangan yang dipantau pada pukul 08.45 WIB menunjukkan kurs USD/IDR berada di kisaran Rp17.978–Rp17.979 per dolar AS. Angka tersebut naik sekitar 0,29 hingga 0,30 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena level tertinggi harian telah menyentuh Rp18.024,1 per dolar AS. Angka itu juga tercatat sebagai titik tertinggi dalam rentang 52 minggu terakhir.
Sejak pembukaan perdagangan di level Rp17.940 per dolar AS, nilai tukar rupiah terus bergerak melemah. Sepanjang pagi, pergerakan kurs berada dalam rentang Rp17.937,8 hingga Rp18.024,1 per dolar AS.
Bila dibandingkan dengan posisi setahun lalu, tekanan terhadap rupiah terlihat semakin nyata. Dalam kurun satu tahun terakhir, kurs USD/IDR telah mengalami kenaikan lebih dari 10 persen. Sementara rentang pergerakan tahunan tercatat berada di antara Rp16.085 hingga Rp18.024 per dolar AS.
Menguatnya dolar tentu membawa dampak yang tidak kecil bagi masyarakat. Harga barang impor berpotensi meningkat, termasuk bahan baku industri, produk elektronik, hingga kebutuhan yang bergantung pada pasokan luar negeri. Di sisi lain, pelaku usaha yang bergerak di sektor ekspor justru berpeluang menikmati keuntungan lebih besar karena penerimaan dalam dolar akan bernilai lebih tinggi saat ditukarkan ke rupiah.
Pergerakan kurs juga menjadi perhatian bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, maupun cicilan yang menggunakan denominasi dolar.
Hingga perdagangan pagi berlangsung, pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global yang memengaruhi pergerakan mata uang dunia. Arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi global masih menjadi faktor utama yang menentukan laju dolar terhadap rupiah (***)
